ANTARAYAMEDIA – Lampu-lampu Saodenrae Convention Center pagi itu menyala terang, memantulkan binar bahagia dari ratusan pasang mata yang bersiap merayakan buah perjuangan mereka. Rabu, 26 Agustus 2026, seharusnya menjadi hari paling berseri bagi Inriani. Mahasiswi Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Universitas Mega Buana (UMB) Palopo itu semestinya duduk di antara derai tawa rekan-rekannya, mengenakan toga, dan menyambut pengukuhan gelar sarjananya di acara Wisuda Angkatan XVII Periode IV.
Namun, takdir menuliskan kisah lain. Sebuah kursi di barisan wisudawan terbiar kosong, menyimpan rindu dan hampa yang menyayat hati. Sebelum hari bahagia itu tiba, Sang Pencipta telah memanggilnya pulang lebih dulu.
Suasana riuh kegembiraan seketika surut, berganti keheningan yang mencekam tatkala nama Inriani dipanggil oleh pembawa acara, menyertai capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,79 yang diraihnya. Tidak ada langkah anggun sang mahasiswi mendekati podium. Sebagai gantinya, sosok tante dan sang nenek melangkah pelan dengan bahu bergetar, mendekap erat bingkai foto beraut tersenyum milik almarhumah. Langkah gemetar itu seketika mengaduk perasaan seluruh hadirin yang menyaksikan.
Di atas panggung, Rektor Universitas Mega Buana Palopo, Prof. Nilawati Uly, S.Si., Apt., M.Kes., CIPA., tak mampu menyembunyikan rasa dukanya. Dengan penuh penghormatan, beliau memberikan perhatian khusus pada pengukuhan almarhumah. Beliau merengkuh hangat keluarga yang ditinggalkan, mengalirkan ketabahan, lalu menyerahkan lembaran ijazah impian Inriani secara langsung.
“Di tengah kebahagiaan hari ini, izinkan saya menyampaikan rasa duka yang mendalam,” tutur Prof. Nilawati Uly dengan suara bergetar.
“Salah satu wisudawati kita dari Program Studi Keperawatan, Inriani, telah dipanggil lebih dulu oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Hari ini, kehadiran beliau diwakili oleh keluarga tercintanya,” tegasnya.
Perjalanan gadis asal Desa Lare-Lare ini dimulai saat ia melangkahkan kaki pertama kalinya di UMB Palopo pada 2022 lalu. Putri dari pasangan Kristina dan Aris Pirri ini dikenal sebagai sosok mahasiswa yang aktif, ramah, serta gigih mengejar cita-citanya menjadi seorang perawat. Namun, perjuangan fisiknya terhenti pada 16 April 2026. Sebuah kecelakaan sepeda motor saat melaju menuju kampus merenggut nyawanya, memotong takdir dunia sebelum ia sempat merayakan kelulusan.
Inriani memang tak sempat mengenakan toga kebanggaannya atau mendengar riuh tepuk tangan pengukuhan gelar sarjana di dunia bersama kawan-kawannya. Namun, jauh sebelum rekan-rekannya dikukuhkan hari itu, ia telah meraih pengukuhan terabadi yang kelak diterima oleh setiap manusia.
“Kepada almarhumah Inriani, meskipun engkau tidak hadir secara fisik, keberhasilanmu akan selalu dikenang dan namamu tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Universitas Mega Buana,” pungkas sang Rektor mengiringi doa bersama.
“Mari kita doakan agar almarhumah mendapat tempat termulia di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” sambungnya.
Foto di dalam bingkai itu tetap tersenyum. Di tempat terindah-Nya, Inriani kini telah selesai menempuh ujian dunia, meninggalkan jejak perjuangan serta kenangan abadi di kampus tercintanya. (*)






