Oleh: Abdul Zahir (Dosen Universitas Cokroaminoto Palopo)
ANTARAYA MEDIA – Transformasi ekonomi digital telah mengubah cara manusia bekerja dan menjalankan usaha. Kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, analisis data, dan berbagai platform digital semakin memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Perubahan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Pendidikan Vokasional. Pertanyaannya, apakah pendidikan kita sudah bergerak secepat perubahan dunia kerja?
Pendidikan Vokasional tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai keterampilan teknis. Dunia kerja membutuhkan tenaga yang mampu menggunakan teknologi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan beradaptasi. Karena itu, orientasi pendidikan harus bergeser dari sekadar menyiapkan lulusan untuk pekerjaan tertentu menjadi membentuk individu yang mampu terus belajar sepanjang hayat.
Salah satu persoalan utama adalah kesenjangan antara perkembangan teknologi dan pembaruan kurikulum. Ketika industri telah menggunakan sistem digital, sebagian pembelajaran masih berpotensi berorientasi pada keterampilan yang kurang relevan. Solusinya, kurikulum harus diperbarui secara berkala dengan melibatkan dunia usaha dan dunia industri agar kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan nyata.
Transformasi tersebut juga menuntut peningkatan kompetensi guru. Digitalisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada pengadaan komputer, internet, atau aplikasi pembelajaran. Guru perlu memperoleh pelatihan berkelanjutan agar mampu mengintegrasikan teknologi dengan metode pembelajaran yang aktif, kreatif, dan berbasis proyek. Peserta didik harus diberi kesempatan menggunakan teknologi untuk menghasilkan solusi, bukan sekadar menghafal teori.
Pengalaman negara lain dapat menjadi pelajaran. Singapura, melalui program SkillsFuture, mengembangkan pembelajaran sepanjang hayat dan pelatihan yang berkaitan dengan kebutuhan industri. Sementara itu, pengalaman digitalisasi Pendidikan Vokasional di Korea Selatan menunjukkan pentingnya hubungan antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan perusahaan teknologi. Indonesia perlu mengadaptasi praktik tersebut sesuai kondisi dan potensi daerah.
Bagi Kota Palopo dan Luwu Raya, pengembangan Pendidikan Vokasional berbasis digital memiliki peluang besar. Sektor perdagangan, pertanian, industri pengolahan, pertambangan, UMKM, dan jasa membutuhkan keterampilan digital untuk meningkatkan produktivitas. Sekolah dan perguruan tinggi dapat membangun kemitraan dengan pelaku usaha lokal melalui proyek pengembangan aplikasi, pemasaran digital, pengelolaan inventaris, dan analisis data usaha.
Praktik Kerja Lapangan (PKL) juga perlu diperkuat agar tidak sekadar menjadi persyaratan administratif. Sekolah perlu memastikan bahwa peserta didik memperoleh pengalaman kerja yang sesuai dengan kompetensi keahliannya. Pemanfaatan sistem informasi digital dapat membantu memantau kegiatan PKL, mendokumentasikan pekerjaan, dan memperkuat komunikasi antara sekolah, peserta didik, serta pembimbing industri.
Namun, digitalisasi harus tetap memperhatikan kesetaraan akses. Tidak semua peserta didik memiliki perangkat dan koneksi internet yang memadai. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu menyediakan dukungan infrastruktur, materi pembelajaran yang fleksibel, serta fasilitas yang inklusif. Tanpa upaya tersebut, transformasi digital justru berisiko memperlebar kesenjangan pendidikan.
Selain keterampilan teknis, Pendidikan Vokasional harus membentuk karakter dan tanggung jawab. Peserta didik perlu memahami etika penggunaan AI, keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta dampak teknologi terhadap masyarakat. Teknologi dapat membantu pekerjaan manusia, tetapi kemampuan mengambil keputusan secara kritis dan bertanggung jawab tetap harus dikembangkan melalui pendidikan.
Karena itu, pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industri perlu membangun kolaborasi yang nyata dan berkelanjutan. Keberhasilan Pendidikan Vokasional tidak cukup diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari relevansi kompetensi, kesiapan kerja, kemampuan berwirausaha, dan daya adaptasi mereka terhadap perubahan.
Palopo dan Luwu Raya memiliki peluang untuk menjadikan pendidikan sebagai penggerak ekonomi digital daerah. Pendidikan Vokasional harus bergerak melampaui sekadar meluluskan peserta didik: menyiapkan generasi yang kompeten, adaptif, dan mampu menciptakan peluang bagi masa depan.





