ANTARAYA MEDIA, JAKARTA — Sektor properti dan perumahan terus dipacu sebagai salah satu mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan kajian LPEM FEB UI, ekosistem perumahan menyumbang hingga 14,67 persen terhadap PDB pada 2025 dan berhasil menyerap 12,62 juta tenaga kerja.
Daya ungkit yang masif ini menjadi bahasan utama dalam pameran buku Industri Properti untuk Indonesia 8 persen di Kantor Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Jakarta. Pembangunan perumahan dinilai memberi efek berganda (multiplier effect) secara langsung bagi puluhan industri turunan seperti semen, baja, keramik, hingga jasa keuangan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menekankan pentingnya memaksimalkan rantai pasok dalam negeri agar manfaat ekonomi berputar penuh di tingkat lokal.
“Ketika sektor properti bergerak, sektor-sektor lain ikut terdorong. Yang perlu kita dorong ke depan adalah bagaimana multiplier effect ini bisa semakin maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Amalia, Jumat (26/9/2026).
Amalia menambahkan, BPS kini mendorong pembentukan neraca satelit perumahan agar kontribusi riil sektor ini tercatat secara komprehensif sebagai dasar pengambil kebijakan berbasis data.
Di tempat yang sama, Menteri PKP Maruarar Sirait menegaskan bahwa pemerintah mengandalkan skema pembiayaan kreatif dan kolaboratif agar penyediaan rumah layak bagi masyarakat tidak semata-mata bergantung pada APBN.
“Kita punya anggaran PKP tahun depan sekitar Rp 11 triliun, tetapi untuk total program perumahan bisa digerakkan sampai Rp 184 triliun melalui berbagai skema ekosistem. Kita butuh terobosan yang tetap sesuai aturan dan langsung dirasakan rakyat,” tegas Maruarar. (*)






