ANTARAYA MEDIA, LUTRA – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan mencapai 6,17 persen pada tahun 2025. Capaian ini menempatkan Luwu Utara di peringkat keenam sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di Sulawesi Selatan.
Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, menyampaikan bahwa angka tersebut meningkat signifikan dibanding tahun 2024 yang berada di angka 4,30 persen.
“Alhamdulillah, setahun kepemimpinan ini ada peningkatan signifikan dari tahun 2024 sebesar 4,30 persen menjadi 6,17 persen di triwulan keempat 2025,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan pembangunan daerah. Ia menjelaskan bahwa struktur ekonomi Luwu Utara masih didominasi sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan dengan kontribusi sekitar 53,50 persen.
“Sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan menjadi penopang utama ekonomi daerah. Artinya, kekuatan ekonomi Luwu Utara tetap bertumpu pada potensi lokal,” jelasnya.
Andi Rahim menambahkan, pertumbuhan ini tidak hanya memperkuat daya saing daerah di tingkat provinsi, tetapi juga berdampak pada peningkatan peluang kerja serta perputaran ekonomi masyarakat.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara berkomitmen memperkuat sektor unggulan melalui peningkatan produktivitas, hilirisasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Insyaallah, kami akan terus memperkuat sektor unggulan dan membangun infrastruktur pendukung agar pertumbuhan ekonomi berdampak nyata pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Pengamat Soroti Stabilitas Pertumbuhan
Pengamat kebijakan publik, Syahiruddin Syah, turut menyoroti capaian tersebut. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 6 persen dapat dikategorikan stabil.
“Lutra tahun 2024 berada di angka 4,30 persen, lalu melonjak menjadi 6,72 persen pada triwulan pertama 2025, dan saat ini berada di angka 6,17 persen. Ini menunjukkan kondisi yang stabil dan baik,” ujarnya.
Dosen Universitas Andi Djemma Palopo itu menilai, pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari kebijakan pemerintah daerah yang dijalankan secara efektif, terutama dalam aspek komunikasi dan koordinasi.Ia mengaitkan hal tersebut dengan teori implementasi kebijakan dari George C. Edwards III yang menekankan pentingnya komunikasi dalam pelaksanaan kebijakan publik.
“Kebijakan harus dikomunikasikan dengan baik. Dalam proses pembangunan, perlu keterlibatan pemerintah, masyarakat, media, dan akademisi. Jika itu terpenuhi, pertumbuhan akan melaju,” jelasnya.
Syahiruddin berharap tren positif ini terus terjaga dan berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan, khususnya melalui pembangunan infrastruktur di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Saya yakin angka ini masih bisa meningkat dan berdampak pada penekanan angka kemiskinan. Fokus pada wilayah 3T merupakan langkah strategis untuk memutus kantong-kantong kemiskinan,” pungkasnya. (**)






