ANTARAYA MEDIA, LUWU TIMUR – Langkah inovatif menuju pertanian presisi kembali ditunjukkan civitas akademika Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP). Tim peneliti UNCP secara resmi memulai tahap awal pengembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk mendeteksi penyakit tanaman lada berbasis lokasi melalui riset bertajuk “WebSpasial-Intelligence”.
Pengambilan data lapangan perdana telah sukses dilaksanakan pada Sabtu (20/6/2026) di area perkebunan lada Dusun Sumasang, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.
Pengembangan riset ini dipimpin oleh Syafriadi, S.Kom., M.Kom., bersama tim dosen Nirsal, S.Kom., M.Pd. dan Andi Safitri Sacita, S.P., M.P., serta dibantu oleh tiga mahasiswa dari program studi Informatik dan Agroteknologi.
Proses akuisisi data lapangan dirancang secara ketat menggunakan kamera smartphone dan drone berstandar khusus, meliput pencatatan geotagging hingga observasi visual gejala penyakit yang divalidasi langsung oleh ahli agroteknologi.
Ketua tim peneliti, Syafriadi, S.Kom., M.Kom., menekankan bahwa akurasi model AI sangat bergantung pada representasi data riil dari perkebunan.
“Pengumpulan data lapangan merupakan tahapan penting untuk memastikan model kecerdasan buatan yang dikembangkan mampu bekerja sesuai dengan kondisi nyata perkebunan. Pendekatan penelitian tidak hanya mengandalkan karakteristik visual tanaman, tetapi juga mempertimbangkan aspek lokasi melalui pemodelan spasial sehingga pola penyebaran risiko penyakit dapat dianalisis secara lebih akurat,” jelas Syafriadi.
Sistem WebSpasial-Intelligence mengintegrasikan tiga teknologi utama: algoritma Spatial-Weighted Support Vector Machine (SVM), Sistem Pakar, dan Explainable Artificial Intelligence (XAI). Kombinasi ini tidak hanya menghasilkan prediksi penyakit berakurasi tinggi, tetapi juga menyajikan penjelasan logis yang mudah dipahami oleh para petani di lapangan.
Riset yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek melalui skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR) ini diproyeksikan berjalan sepanjang periode 2026–2027 sebagai solusi digital kesehatan tanaman perkebunan. (*)






