ANTARAYA MEDIA, LUWU — Tanaman sagu selama ini dikenal sebagai sumber pangan tradisional masyarakat Tana Luwu. Namun, penelitian terbaru yang dilakukan tim Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki fungsi yang jauh lebih besar, yakni sebagai solusi berbasis alam untuk mengurangi risiko longsor dan banjir di wilayah pegunungan.
Melalui program Penelitian Fundamental Tahun 2026, tim peneliti UNCP melakukan pemetaan dan pengkajian potensi sagu di Desa Boneposi dan Desa Ulusalu, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu. Penelitian tersebut berupaya mengungkap dan membuktikan secara ilmiah peran sagu sebagai benteng alami pada kawasan rawan bencana hidrometeorologi.
Ketua tim peneliti, Dr. Ichwan Muis, menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya ancaman bencana di Tana Luwu dalam beberapa tahun terakhir, termasuk banjir bandang Masamba pada 2020 dan longsor Latimojong pada 2024.
Menurutnya, pendekatan mitigasi yang selama ini bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik membutuhkan biaya besar dan tidak selalu berkelanjutan. Karena itu, solusi berbasis alam menjadi alternatif yang layak dikembangkan.
“Selama ini masyarakat menanam sagu di lereng dan lembah sebagai bagian dari tradisi. Kami ingin menerjemahkan pengetahuan lokal tersebut menjadi data ilmiah yang dapat digunakan dalam kebijakan mitigasi bencana dan tata ruang,” ujarnya.
Selama dua hari penelitian lapangan pada 1–2 Juni 2026, tim melakukan pemetaan kemiringan lereng menggunakan foto udara nirawak, pencatatan titik tumbuh sagu berbasis GPS, pendataan aksesi lokal, hingga dokumentasi kondisi vegetasi melalui potret 360 derajat.
Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa sagu tumbuh pada ketinggian 828 hingga 1.058 meter di atas permukaan laut di kawasan hulu DAS Suso. Temuan ini menarik karena sagu umumnya dikenal sebagai tanaman rawa dataran rendah.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa keberadaan sagu di Latimojong merupakan hasil budidaya masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Tim juga menemukan empat aksesi sagu lokal, yakni Sabbe, Ute, Kasimpo, dan Uso. Sebagian besar rumpun sagu berada di lembah sungai dan kaki lereng, wilayah yang memiliki tingkat kerawanan longsor cukup tinggi.
Dari sisi ilmiah, sagu dinilai memiliki potensi besar dalam menjaga kestabilan lereng. Sistem akar serabut yang rapat diyakini mampu memperkuat struktur tanah dan mengurangi risiko pergerakan massa tanah. Sementara tajuk yang lebat berfungsi menahan curah hujan langsung ke permukaan tanah sehingga mengurangi aliran permukaan yang dapat memicu erosi.
Selain itu, rumpun sagu yang tumbuh di sepanjang aliran sungai berpotensi menjadi benteng alami untuk mengurangi gerusan tebing dan sedimentasi.Anggota tim peneliti bidang geofisika dan pemetaan, Aryadi Nurfalaq, mengatakan data sebaran sagu yang diperoleh dari GPS dan foto udara akan dipadukan dengan analisis geofisika untuk menyusun model kawasan lindung berbasis sagu.
“Pola sebaran sagu yang mengikuti lembah dan kaki lereng memberikan petunjuk penting mengenai hubungan tanaman ini dengan stabilitas kawasan. Hal ini akan kami kaji lebih lanjut melalui pengujian biofisik dan pemodelan geoteknik,” katanya.
Penelitian ini dirancang berlangsung selama dua tahun. Pada 2026, fokus penelitian diarahkan pada mitigasi longsor di kawasan hulu. Sementara pada 2027, penelitian akan diperluas ke wilayah hilir untuk mengkaji peran sagu dalam mengurangi risiko banjir dan erosi.
Luaran penelitian tidak hanya berupa publikasi ilmiah, tetapi juga pengembangan konsep Desa Tangguh Bencana dan Pangan berbasis sagu atau Destana Sagu serta penyusunan rekomendasi kebijakan perlindungan kawasan sagu di Tana Luwu.
Melalui penelitian ini, UNCP berupaya menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini identik dengan kebutuhan pangan masyarakat ternyata menyimpan nilai ekologis yang penting. Sagu bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga berpotensi menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana yang berkelanjutan di masa depan. (hms)






