Inovasi Dosen UNCP Permudah Panen Rumput Laut Berbasis Forward-Reserve, Petani Tak Lagi Pakai Sistem Manual

ANTARAYA MEDIA, LUWU – Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) kembali menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat pesisir melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM).

Kali ini, tim dosen UNCP memperkenalkan mesin penarik dan perontok rumput laut otomatis berbasis sistem forward-reverse kepada petani di Desa Bassiang Timur, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu.

Bacaan Lainnya

Teknologi tepat guna tersebut dirancang untuk mempercepat proses pascapanen, mengurangi beban kerja petani, sekaligus meningkatkan keselamatan saat memanen rumput laut.

Selama ini, petani masih mengandalkan cara manual untuk memisahkan rumput laut dari tali budidaya. Proses tersebut tidak hanya memakan waktu dan tenaga, tetapi juga berisiko menyebabkan luka akibat kerang tiram maupun organisme tajam yang menempel pada tali.

Melalui mesin yang dikembangkan tim PKM UNCP, petani cukup memasukkan tali budidaya ke dalam alat. Mesin kemudian akan menarik tali sekaligus merontokkan rumput laut secara otomatis. Hasil panen langsung terpisah dari tali sehingga proses dapat dilakukan di atas perahu tanpa harus membawa seluruh tali budidaya ke darat.

Inovasi ini memberikan sejumlah manfaat, mulai dari menghemat waktu panen, menekan biaya transportasi, meningkatkan efisiensi kerja, hingga mengurangi kerusakan hasil panen akibat proses penanganan yang terlalu lama.

Selain itu, sistem forward-reverse membuat pengoperasian mesin menjadi lebih mudah karena tidak memerlukan pemutaran alat secara manual. Desainnya juga dibuat ergonomis dan kokoh sehingga sesuai digunakan di lingkungan pesisir.

Ketua Tim PKM UNCP, Abdul Rais, S.Si., M.Ling., mengatakan inovasi tersebut lahir sebagai solusi atas persoalan yang selama ini dihadapi petani rumput laut, tidak hanya dari sisi produktivitas tetapi juga keselamatan kerja.

“Selama ini petani sering mengalami luka akibat kerang tiram maupun organisme tajam yang menempel pada tali budidaya. Melalui mesin ini, kontak langsung dengan tali dapat dikurangi secara signifikan sehingga risiko cedera maupun infeksi dapat diminimalkan. Harapannya, teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan sistem kerja yang lebih aman, praktis, dan nyaman bagi masyarakat pesisir,” ujarnya.

Program pengabdian ini dilaksanakan oleh tim dosen yang diketuai Abdul Rais, S.Si., M.Ling., dengan anggota Baso Ali, S.Pd., M.P., dan Safwan Kasma, S.Kom., M.Pd., serta melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan bermitra dengan Kelompok Tani Pasampa Katonik dan diikuti aparat desa serta masyarakat yang turut mendapatkan pelatihan penggunaan dan perawatan mesin. Pendampingan teknis juga diberikan agar petani mampu mengoperasikan dan merawat alat secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Melalui inovasi ini, UNCP berharap teknologi tepat guna dapat menjadi penggerak peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani rumput laut di Kabupaten Luwu. Kehadiran mesin tersebut diharapkan mampu menghadirkan sistem pascapanen yang lebih modern, efisien, dan aman, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir berbasis potensi lokal.

Program PKM ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya mendorong lahirnya inovasi perguruan tinggi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. (*)

Pos terkait